Pages

Tuesday, October 19, 2010

Guardiola Kehilangan Kata Memuji Timnya

Pelatih Barcelona Josep Guardiola begitu gembira setelah timnya menang 8-0 atas Almeria. Ia kehilangan kata-kata untuk memuji para pemainnya.

Kemenangan itu terasa semakin lengkap bagi Barca karena striker Lionel Messi mencetak tiga gol yang menjadikannya pemain keempat yang membukukan 100 gol di kancah liga. Kemenangan besar itu juga membawa Barca menyamai rekor kemenangan di Las Palmas pada 1959.

"Setiap kali kami mencetak gol, tidak seperti hari-hari lain. Sulit berkata lebih banyak setelah kemenangan besar ini. Saya hanya ingin memberi selamat kepada tim karena mereka begitu efektif," kata Guardiola.

Guardiola menegaskan, kemenangan itu tak lepas dari kerja keras tim yang selalu menjaga kekompakan di lapangan. Solidaritas ini sangat penting bagi Barca, melebih kemampuan individual dari para pemain.

"Setiap hal yang kami lakukan merupakan keunggulan kami. Itulah caranya. Kami sekali lagi memperlihatkan bahwa jika kami melakukan hal penting, memperlihatkan solidaritas, yang kami lakukan semuanya bersama-sama, kami mengendalikan permainan. Sisanya soal talenta," tambahnya.

Dalam laga semalam, semua pemain Barca bergerak bersama merusak pertahanan Almeria. Striker David Villa, meskipun tak mencetak gol, berjibaku memberikan assist untuk rekan-rekannya, termasuk Messi.

Friday, October 15, 2010

Spies Mau Timba Ilmu dari Lorenzo

Demi meraih prestasi yang memuaskan, Ben Spies tak segan untuk menimba ilmu dari Jorge Lorenzo. Pebalap Amerika Serikat ini mengatakan, dia ingin belajar sebanyak mungkin dari pebalap Spanyol tersebut, yang baru saja meraih gelar juara dunia MotoGP 2010.

Musim depan, Spies bakal jadi tandem Lorenzo di tim pabrikan Yamaha, setelah Valentino Rossi memutuskan untuk hengkang ke Ducati. Mantan juara dunia Superbike tersebut "promosi" ke tim pabrikan, setelah dia dinilai sukses ketika memperkuat tim satelit Yamaha Tech 3.

Tak seperti ketika Rossi dan Lorenzo, yang nyaris tak melakukan kerja sama bahkan garasi mereka dipisahkan oleh sebuah tembok, Spies ingin melakukan sebuah perubahan. Dia berani menepis gengsi, lantaran mau belajar dari kesuksesan Lorenzo.

"Ada banyak yang ingin saya lakukan karena saya mau belajar dari dia," ujar Spies. "Ada beberapa area dari apa yang saya lalu sepanjang tahun, di mana harus mempertahankan perolehan poin-poin yang bagus, tetapi juga ada yang perlu saya perbaiki.

"Dan ada beberapa hal yang dia benar-benar bagus, yang anda tidak selalu hanya menjiplak, tetapi anda bisa mencoba untuk bekerja sama supaya bisa mendapatkannya.

"Sebagai seorang pebalap, saya memerlukan perbaikan, saya tahu itu. Dan kami akan melakukannya dengan melakukan perbandingan bersama Jorge.

"Kami memiliki gaya berbeda, tetapi saya merasa lebih baik mengendarai sebuah motor GP dan saya harus lebih baik pada tahun depan. Mungkin tidak mengalami kemajuan sangat besar, tetapi saya harus lebih baik."

Spies juga tidak terlalu yakin dengan seberapa besar pengaruhnya dengan pengembangan Yamaha tahun depan--apalagi dia masih kalah pengalaman di MotoGP dibandingkan dengan Lorenzo. Pasalnya, musim lalu dia berada di tim satelit.

"Saya kira, dari sisi pengembangan saya tidak buruk, tetapi juga saya tidak banyak pengalaman pada motor MotoGP," jelas Spies.

"Sekarang, setelah menjalani satu tahun dan ada perubahan staf, kami bisa melakukan perubahan. Akan tetapi, pengembangan sesungguhnya belum banyak. Karena itu, saya menantikannya--mendapatkan beberapa staf baru, berusaha melakukannya dan melihat ke mana kami pergi dari sana."